Selamat Datang di Website Ekonomi Mikro Syariah

CIRI EKONOMI ISLAM

Senin, 07 Maret 2011

Oleh : Habib Muhammad Rizieq Syihab, MA

Kandidat Doktor Shariah di Universiti Malaya

Pembeda Utama antara Sistem Ekonomi Islam dan Sistem Ekonomi lainnya adalah
sumbernya. Sistem Ekonomi Islam lahir dari sumber wahyu, sedang yang lain
datang dari sumber akal. Karenanya, ciri Ekonomi Islam sangat khas dan
sempurna, yaitu : Ilahiah dan Insaniah.

Berciri ilahiah karena berdiri di atas dasar aqidah, syariat dan akhlaq.
Artinya, Ekonomi Islam berlandaskan kepada aqidah yang meyakini bahwa harta
benda adalah milik Allah SWT, sedang manusia hanya sebagai khalifah yang
mengelolanya (Istikhlaf), sebagaimana diamanatkan Allah SWT dalam surat
Al-Hadiid ayat 7. Dan Ekonomi Islam berpijak kepada syariat yang mewajibkan
pengelolaan harta benda sesuai aturan Syariat Islam, sebagaimana ditekankan
dalam surat Al-Maa-idah ayat 48 bahwa setiap umat para Nabi punya aturan
syariat dan sistem. Serta Ekonomi Islam berdiri di atas pilar akhlaq yang
membentuk para pelaku Ekonomi Islam berakhlaqul karimah dalam segala tindak
ekonominya, sebagaimana Rasulullah SAW mengingatkan bahwasanya beliau diutus
hanya untuk menyempurnakan kemuliaan-kemuliaan akhlaq.

Berciri insaniah karena memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi dan sempurna.
Sistem Ekonomi Islam tidak membunuh hak individu sebagaimana Allah SWT nyatakan
dalam surat Al-Baqarah ayat 29 bahwa semua yang ada di Bumi diciptakan untuk
semua orang. Namun pada saat yang sama tetap memelihara hak sosial dengan
seimbang, sebagaimana diamanatkan dalam surat Al-Israa ayat 29 bahwa
pengelolaan harta tidak boleh kikir, tapi juga tidak boleh boros. Di samping
itu, tetap menjaga hubungan dengan negara sebagaimana diperintahkan dalam surat
An-Nisaa ayat 59 yang mewajibkan ketaatan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW
serta Ulil Amri yang dalam hal ini boleh diartikan penguasa (pemerintah) selama
taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Dengan kedua ciri di atas, aktivitas Sistem Ekonomi Islam terbagi dua :
Pertama, individual yaitu aktivitas ekonomi yang bertujuan mendapatkan
keuntungan materi bagi pelakunya, seperti perniagaan, pertukaran dan
perusahaan. Kedua, sosial yaitu aktivitas ekonomi yang bertujuan memberikan
keuntungan kepada orang lain, seperti pemberian, pertolongan dan perputaran.

Sekurangnya ada 15 (lima belas) aktivitas Ekonomi Islam yang bersifat
individual, yaitu : Al-Bai’, As-Salam, Ash-Shorf, Asy-Syirkah, Al-Qiradh,
Al-Musaqah, Al-Muzara’ah, Al-Mukhabarah, Al-Ijarah, Al-Ujroh, Al-Ji’alah,
Asy-Syuf’ah, Ash-Shulhu, Al-Hajru, dan Ihya-ul Mawat. Kelimabelas aktivitas
ekonomi di atas merupakan pintu mencari keuntungan materi yang dihalalkan
Syariat Islam. Setiap individu bebas menjadi pelaku aktivitas ekonomi di atas
dan bebas pula mengais keuntungan sesuai dengan rukun dan syarat yang
ditetapkan syariat untuk tiap-tiap aktivitas tersebut.

Ada pun aktivitas Ekonomi Islam yang bersifat sosial sekurangnya juga ada 15
(lima belas), yaitu : Ash-Shodaqah, An-Nafaqoh, Al-Hadiyah, Al-Hibah, Al-Waqf,
Al-Qordh, Al-Hawalah, Ar-Rahn, Al-‘Ariyah, Al-Wadi’ah, Al-Wakalah, Al-Kafalah,
Adh-Dhoman, Al-Luqothoh, dan Al-Laqith. Dalam kelimabelas aktivitas ekonomi di
atas para pelakunya tidak dibenarkan mengambil keuntungan untuk dirinya,
melainkan ditujukan untuk memberi keuntungan kepada orang lain. Misalnya, dalam
aktivitas Al-Qordh (Utang), si pemilik piutang (yang memberi utang) tidak
dibenarkan mengambil ”untung” dengan mensyaratkan ”kelebihan” kepada orang yang
berutang dalam pengembalian utangnya, walau satu sen, karena Al-Qordh adalah
bentuk bantuan dan pertolongan kepada orang lain, bukan perniagaan, sehingga
”keuntungan” apa pun bagi pemberi utang yang disyaratkan dalam utang menjadi
Riba yang diharamkan syariat, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits
riwayat Imam Ath-Thabrani rhm dalam Al-Mu’jam Al-Kabir.

Menariknya, dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Majah rhm disebutkan bahwa
Rasulullah SAW melarang pemberi utang untuk menerima hadiah atau memanfaatkan
pinjaman barang apa pun dari orang yang berutang sebelum utangnya dilunasi,
kecuali jika di antara keduanya sudah sering saling memberi hadiah atau
meminjamkan barang dari sebelum adanya utang. Salah satu hikmah pelarangan ini
adalah untuk menjaga kemurnian nilai sosial dan memelihara kemuliaan jiwa
kepedulian tanpa pamrih yang ada dalam aktivitas Al-Qardh.

Selain itu, dalam rangka melindungi keseimbangan individual dan sosial dalam
aktivitas ekonomi umat, maka Sistem Ekonomi Islam membuat proteksi yang tinggi
dari segala penyimpangan perilaku ekonomi yang mengancam dan membahayakan
keseimbangan tersebut. Untuk itu ada 8 (delapan) perilaku ekonomi menyimpang
yang diharamkan syariat, yaitu : Ikrah (Pemaksaan), Ghashb (Perampasan), Gharar
(Penipuan), Ihtikar (Penimbunan), Talaqqi Rukban (Pertengkulakan), Qimar
(Perjudian), Risywah (Suap), dan Riba (Rente).

Lebih dari itu, Sistem Ekonomi Islam tidak hanya menjaga keseimbangan antara
hak individu dan hak sosial, bahkan antara hak Khaliq dan hak makhluq.
Karenanya, Ekonomi Islam disebut sebagai Ekonomi Wasathiyah (Ekonomi
Pertengahan) yaitu sistem ekonomi yang menjaga tawazun (keseimbangan) antara :
Hak Allah dan Hak Manusia, Hak Dunia dan Hak Akhirat, Hak Individu dan Hak
Sosial, Hak Rakyat dan Hak Negara.

Berbeda dengan Sistem Ekonomi Barat, baik Kapitalis mau pun Komunis, yang hanya
mengenal materi, angka dan untung-rugi, serta hanya bertujuan untuk :
Pengendalian Pasar, Mengalahkan Pesaing, Memperkaya Diri dan Merugikan Orang.

Sepintas memang Kapitalis berbeda dengan Komunis. Kapitalis sangat
individualisme dimana secara teori hanya fokus kepada : Membela Individu dan
Membunuh Sosial. Sedang Komunis sangat sosialisme dimana secara teori hanya
fokus kepada : Membela Sosial dan Membunuh Individu. Namun jika diperhatikan
lebih mendalam, ternyata keduanya sama bermadzhab Materialisme yang bertujuan
materi semata, dan sama berperisai Demokrasi untuk menghalalkan segala cara
agar bebas mengais keuntungan, sehingga pada prakteknya, baik Kapitalis mau pun
Komunis, tetap saja sama mengorbankan rakyat kecil.

Landasan sosio-ekonomi Barat, baik Kapitalis mau pun Komunis, adalah Riba yang
merupakan cerminan dari pengambilan, kekejian, kekikiran, keegoisan dan
ketamakan. Sedang landasan sosio-ekonomi Islam adalah Sedekah yang merupakan
cerminan dari pemberian, kesucian, kemurahan, kesetia-kawanan dan ketulusan.

Dengan demikian, Sistem Ekonomi Islam tidak bisa disamakan dengan Sistem
Ekonomi Kapitalis yang kini tampil dengan Ekonomi Neo Liberal nya dan sering
mengklaim sebagai Sistem Ekonomi Modern. Dan Sistem Ekonomi Islam juga tidak
bisa disamakan dengan Sistem Ekonomi Komunis atau yang kini tampil dengan
Ekonomi Neo Sosialis nya dan sering mengklaim sebagai Sistem Ekonomi
Kerakyatan. Sistem Ekonomi Islam adalah sebuah sistem ekonomi sempurna yang
sudah teruji dan telah membuktikan kesempurnaan sistemnya selama tidak kurang
dari 1300 tahun, yaitu sejak dari awal abad ke 7 Miladiyah saat kepemimpinan
Rasulullah SAW s/d awal abad ke 20 Miladiyah saat kejatuhan Kekhilafahan Islam.
Dan kini, di Millenium ke-3, Sistem Ekonomi Islam mulai bangkit kembali, dan
sistem ini pasti berjaya sebagaimana pernah berjaya sebelumnya. Sedang Sistem
Ekonomi Barat yang kini dibanggakan, masih sangat muda sekali umurnya dan belum
teruji dengan baik, bahkan kini sedang mengalami kebangkrutan global untuk
menuju kehancuran.

Kenapa Sistem Ekonomi Islam mampu berjaya sekian lama ? Jawabnya, karena sistem
ini berciri ilahiah dan insaniah, dimana selalu menjaga keseimbangan aktivitas
ekonominya. Lihat saja, di negeri-negeri Kapitalis pajak tinggi walau cari uang
mudah, dan sebaliknya di negeri-negeri Komunis cari uang susah walau pajak
rendah. Jadi, tidak pernah seimbang, selalu di posisi sulit bagi pelaku
ekonominya. Sedang di Negara Islam yang berekonomi Islam, alhamdulillah, cari
uang mudah dan pajak rendah. Itulah yang ditawarkan oleh Sistem Ekonomi Islam.

Ironisnya, di negeri kita yang mayoritas berpenduduk muslim terbesar di dunia :
cari uang susah dan pajak tinggi ! Kasihan betul rakyatnya. Solusinya :
Tegakkan Sistem Ekonomi Islam ! Allahu Akbar !

Tulisan ini telah dimuat dalam Tabloid SUARA ISLAM edisi 63 tgl.23 Rabi’ul
Awwal – 7 Rabi’ul Akhir 1430 H / 20 Maret – 3 April 2009 M dalam kolom SUARA
DARIBUI.

Sumber : SUARA ISLAM

0 komentar:

Poskan Komentar