Selamat Datang di Website Ekonomi Mikro Syariah

Membangun Ekonomi Mikro Berbasis Masjid

Selasa, 18 Mei 2010

Membangun Ekonomi Mikro Berbasis Masjid

Saat ini, cukup banyak lembaga keuangan mikro syariah atau Baitulmal Wattamwil (BMT) yang sengaja berkantor di dekat pasar. Alasannya, karena pasar merupakan tempat sejumlah pedagang mengadu untung meraih rupiah dengan berjuala dari pagi hingga petang hari. Hingga kini, mereka merupakan salah satu konsumen utama penyerap pembiayaan BMT. Namun, pasar bukan satu-satunya lokasi strategis. Karena ada juga BMT yang menjadikan masjid sebagai pusat operasi.

Bagi BMT Usaha Mulya, menjalankan operasi bisnis keuangan mikro syariah di Masjid Pondok Indah adalah satu pilihan bisnis yang penting dijalankan. Hal itu karena pengembangan usaha masyarakat ekonomi menengah kecil dan ibadah merupakan dua hal yang berjalan beriringan.

Salah satu alasan pengurus BMT Usaha Mulya memilih majid karena diharapkan bisa mendorong pengembangan usaha keuangan mikro syariah sekaligus meningkatkan kualitas keimanan baik bagi BMT maupun nasabahnya. ‘’Kami ingin masjid tidak hanya sebagai pusat ibadah saja, tapi juga menjadi pusat pengembangan masyarakat,’’ kata Kabid Usaha BMT Usaha Mulya, Faisal Qosim, beberapa waktu lalu.

Faisal menuturkan, BMT Usaha Mulya pertama kali didirikan pada Agustus 2002. Pendirian dilakukan oleh Yayasan Pondok Mulya yang bergerak pada pengembangan sektor pendidikan, kemasjidan, dan usaha. Saat itu, modal awal yang digunakan BMT untuk memulai operasi bisnis keuangan mikro syariahnya tercatat sebesar Rp 200 juta.

Modal awal itu, digunakan sebagai dana pembiayaan bagi penguatan permodalan usaha kecil dan mikro masyarakat. Selain itu, dana tersebut juga digunakan untuk membiayai kegiatan operasional harian BMT. Menurut Faisal, alasan utama pendirian BMT Usaha Mulya adalah untuk membantu pengembangan perekonomian masyarakat usaha kecil dan mikro. Hingga kini, cukup banyak masyarakat Indonesia yang mencari nafkah melalui usaha jenis kecil dan mikro. Namun, banyak dari mereka yang tidak memiliki akses penguatan permodalan ke sektor perbankan.

Karena itulah, BMT hadir untuk membantu pengembangan usaha mereka. ‘’Melalui BMT, kami ingin membantu pengembangan usaha masyarakat menengah ke bawah,’’ ujarnya. Menurutnya, sebelum BMT ini didirikan, masyarakat usaha menengah ke atas sebetulnya sudah ingin memiliki akses kepada layanan perbankan berbasis syariah. Namun, saat itu, layanan keuangan mikro syariah belum banyak hadir. Padahal, mereka juga berhak mengakses layanan keuangan syariah. ‘’Karena itu, bisa dibilang, kami hadir untuk grass root, melayani masyarakat ekonomi menengah ke bawah,’’ katanya.

BMT Usaha Mulya sendiri merupakan lembaha yang berbadan hukum koperasi. Hingga Mei lalu, BMT Usaha Mulya telah menyalurkan pembiayaan hampir Rp 3 miliar. Dana itu disalurkan bagi ribuan nasabah dengan nilai pembiayaan masing-masing paling kecil sebesar Rp 500 ribu, dan paling besar Rp 50 juta. Namun rata-rata rata-rata pembiayaan per nasabah berkisar Rp 2 juta.

Faisal menyebutkan, nasabah pembiayaan BMT berasal dari berbagai profesi. Tapi, mereka umumnya merupakan pelaku usaha kecil dan mikro. Di antaranya adah pedagang sayur mayur di pasar dan pengusaha toko kelontong. Selain itu, ada juga pengusaha industri kerajinan kayu rumahan yang juga menjadi nasabah BMT.

Selain di Masjid Pondok Indah, Yayasan Pondok Mulya juga mengelola beberapa masjid lainnya di wilayah Jadebotabek. Di antaranya adalah Masjid Akbar Kemayoran, Masjid Al Huriyah Puri Kembangan, dan Masjid Al Furqon Bekasi.

Rencananya, usaha BMT juga akan dikembangkan di beberapa masjid tersebut. Tujuannya adalah agar layanan keuangan mikro syariah dapat diakses oleh banyak masyarakat di Jadebotabek. Dengan demikian, masjid tidak hanya menjadi solusi keimanan, tapi juga solusi bagi perekonomian masyarakat.

0 komentar:

Poskan Komentar